Mahasiswa Indonesia di Osaka Peringati Hari Batik Nasional

batik-toyonaka

Pelajar Indonesia mengenakan baju Batik di Toyonaka Campus, Osaka University

Di Indonesia peringatan Hari Batik Nasional dilaksanakan dengan berbagai kegiatan, seperti kain batik dibentangkan sepanjang ruas jalan dan ada sekitar lebih dari 6000 orang yang memegang kain batik tersebut hingga mendapatkan rekor MURI, pembuatan daster dengan motif batik terpanjang, mengoleksi batik terlengkap, pameran produk batik serta beragam lapisan masyarakat Indonesia disarankan untuk memakai batik. Di dunia maya juga tak mau kalah ketinggalan dalam merayakan hari Batik Nasional, hastag “Selamat Hari Batik Nasional” menjadi worldwide trending topic di jejaring sosial Twitter. Selain itu, laman muka google juga menampilkan gambar enam orang memakai baju batik.

Perlu diketahui bahwa proses yang ditempuh Indonesia untuk mendapatkan pengakuan atas Batik dari UNESCO merupakan perjuangan yang cukup panjang. Pada tanggal 3 September 2008 diawali dengan proses nominasi Batik Indonesia ke UNESCO dan baru diterima secara resmi Januari 2009. Tahap berikutnya ialah pengujian tertutup selama empat hari yang dilakukan di Paris. Dan puncaknya, puji syukur pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO yang merupakan badan PBB dibidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan secara resmi mengakui Batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ini merupakan pengakuan Internasional terhadap Batik Indonesia. Pengakuan UNESCO tersebut ditindaklanjuti oleh Presiden SBY dengan mengeluarkan Keppres No.33 tahun 2009 yang menetapkan bahwa setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Mengingat proses perjuangan tersebut, Sebagai pelajar Indonesia yang tengah menimba ilmu di negeri sakura tergabung dalam Persatuan pelajar Indonesia di Osaka-Nara (PPI Osaka-Nara) berpartisipasi mengenalkan batik di kancah Internasional khususnya di Jepang. Hari ini (2/10), rekan-rekan di Osaka University (Suita dan Toyonaka Campus) semua kompak memakai baju batik untuk mengenalkan dan melestarikan Batik sebagai salah satu bentuk kebanggaan dan kecintaan pada Tanah Air Indonesia. Dengan memakai batik di kampus harapannya Batik Indonesia akan semakin dikenal di dunia, khususnya Jepang.

Tidak hanya tanggal 2 Oktober saja para pelajar Indonesia memperkenalkan Batik di kancah Internasional, tetapi kapanpun saat melaksanakan program kegiatan PPI Osaka-Nara mereka juga memperkenalkan Batik. Seperti saat PPI Osaka Nara turut serta dalam acara Festival Kampus, para pelajar Indonesia mengenakan baju Batik sambil berjualan mie goreng, saat upacara bendera HUT RI ke-69, Pentas Seni Indonesia 2014 yang merupakan program kegiatan PPI Osaka-Nara untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat Jepang. Tidak hanya itu, pelajar Indonesia juga mengenakan baju Batik saat acara entrance ceremony dan graduation ceremony di Osaka University.

 Batik-Festival

Mengenakan baju batik saat berpartisipasi di acara Festival Kampus, berjualan Mie Goreng Selera Indonesia.

Dari Jepang, PPI Osaka-Nara mengucapkan Selamat Hari Batik Nasional 2014. Banggalah memakai Batik Indonesia. Kita jadikan Batik sebagai kebanggaan dan Identitas bangsa Indonesia.

 

Osaka, 2 Oktober 2014.

Iklan

Video Catatan Perjalanan “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”

Perayaan HUT RI ke-69 di Jepang

Di kampung halaman biasanya rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) berlangsung meriah. Diawali upacara bendera dan diikuti serangkain kegiatan yakni memasang bendera merah putih di halaman rumah dan perlombaan seperti lomba panjat pinang, balap karung, tarik tambang, makan kerupuk dan jalan sehat bersama. Diakhir bulan Agustus biasanya ditutup dengan kegiatan bazar makanan disertai panggung hiburan yang menampilkan  lomba joget, lomba karaoke dari pemuda dan anak-anak desa.

Kini saya merayakan HUT RI di Jepang. Dalam rangka perayaan HUT RI ke-69, saya dan rekan-rekan di PPI Korda Kansai memeriahkan perayaan dengan berbagai rangkaian kegiatan. Yakni, Pekan Olahraga Masyarakat se-Kansai (PORMAS) di Kyoto, upacara bendera peringatan HUT RI ke- 69 di Kobe dan Kabaret Budaya Indonesia di Kobe.

Pekan Olahraga Masyarakat se-Kansai diselenggarakan di Shimidzu Arena, Kyoto. Sabtu (9/8) PORMAS digelar dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pelaksanaan PORMAS 2014 juga diharapkan dapat meningkatkan silaturahim, persaudaraan dan keakraban warga negara Indonesia yang berdomisili di wilayah Kansai.

Pormas Kansai 2014 berlangsung meriah dihadiri staff KJRI, pelajar dari PPI Osaka-Nara, PPI Kyoto-Shiga, PPI Tokushima, PPI Okayama, PPI Kobe, pemagang (Kensushei). Tepat pukul 10.00 JST acara dibuka oleh acting Konsul Jenderal RI di Osaka, Bapak Bambang Soegianto. Cabang olahraga yang dipertandingkan pada Pormas Kansai 2014 ialah futsal, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan bola voli. Kali ini saya diberi amanah sebagai kapten cabang olah raga bola voli. Alhamdulillah dari cabang olah raga bola voli putra dan putri, kontingen PPI Osaka-Nara berhasil memperoleh medali perak.

Secara keseluruhan kontingen PPI Osaka-Nara memboyong 1 medali emas dari cabang olahraga tenis lapangan putra, 5 medali perak dari cabang olahraga (bola voli putra, bola voli putri, tenis lapangan putri, tenis meja putra dan bulu tangkis putra), dan 1 medali perunggu dari cabang olahraga tenis meja putra. Dari keseluruhan kontingen, PPI Osaka-Nara berhasil memboyong medali terbanyak. Juara umum diraih oleh PPI Kyoto-Shiga sebagai tuan rumah acara PORMAS dengan 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu.

pormas

Selain turut berpartisipasi di ajang PORMAS, hari Minggu (17/08) saya menghadiri Upacara Bendera HUT RI ke-69 di Wisma Konsul Jenderal Kobe, Jepang. Upacara dihadiri oleh seluruh staff KJRI, Garuda dan Pertamina yang berdomisili di Jepang, ketua PPI Komsat di Korda Kansai serta undangan masyarakat Jepang sahabat Indonesia.  Upacara di mulai tepat pukul 09.30 JST.  Acting Konsul Jenderal RI, Bapak Bambang Soegianto bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa guna mencapai kemakumuran dan kesejahteraan yang adil dan merata, selain itu beliau juga menyampaikan agar WNI yang berada di Jepang khususnya Jepang Barat dapat memberikan sumbangan pada pembangunan Bangsa Indonesia baik melalui pemikiran, ilmu, tenaga, maupun melalui etos kerja dan perilaku serta budi pekerti yang baik. Upacara bendera berlangsung dengan lancar dan khimad. Usai upacara bendera, kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah-tamah dan foto bersama  dan dilanjutkan dengan menikmati hidangan makanan kue khas Indonesia.

upacara

Rangkaian acara selanjutnya adalah Kabaret Budaya Indonesia 2014 yang diselenggarakan Minggu (24/8) di Hyogo International House, Nada, Kobe. Acara ini diselenggarakan oleh PPI korda Kansai dimana PPI komsat Kobe sebagai tuan rumah. Acara ini terselanggara berkat dukungan dari  KJRI Osaka, Garuda Indonesia, KIS dan Tunas Indonesia. Adapun seni budaya yang ditampilkan ialah pagelaran pakaian daerah, prosesi adat pernikahan tradisional, tari rantak, band, angklung, tari saman dan tari  tor-tor.

Acara dimulai tepat pukul 12.00 JST dibuka dengan pertunjukan tari rantak. Usai penampilan tari rantak, dilanjut sambutan oleh Acting Konsul Jenderal RI, Bapak Bambang Soegianto. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PPI Korda Kansai dan PPI Komsat Kobe atas jerih payahnya dalam mensukseskan penyelenggaran acara Kabaret Budaya Indonesia 2014. Harapannya kegiatan seperti ini dapat terus terlaksana untuk mempromosikan budaya Indonesia di Jepang serta dapat membangun citra positif Indonesia. Pada kesempatan ini PPI Osaka-Nara turut serta memeriahkan acara dengan menampilkan tari saman. Para penari saman ini tampil kompak dan penuh semangat sehingga mendapatkan applause dari warga Jepang.

photo2 (3)

Selamat HUT RI ke-69. Salam Indonesia Jaya.

Osaka, 30 Agustus 2014.

Lebaran di Osaka

Pulang kampung adalah salah satu momen indah Idul Fitri. Mudik menjelang lebaran memang menguji kesabaran. Dulu saat kuliah di kota Surabaya, perjuangan mudik dengan moda transportasi bus, tak dapat tempat duduk sudah menjadi santapan tiap tahun saat mudik. Kondisi serupa saat menempuh pendidikan di kota Depok, perjuangan mudik dengan kereta ekonomi dari Jakarta menuju Nganjuk itu sangat melelahkan dan menguji kesabaran ketika harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Namun betapa bahagianya ketika sampai rumah bertemu dan melepas rindu dengan orang tua, sanak saudara dan handai taulan. Ada rasa kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri ketika sungkem pada orang tua.

Kini kali ketiga saya menjalani lebaran di negeri sakura. Jauh dari tanah air dan kampung halaman. Malam takbiran menyongsong lebaran pun saya lalui dengan berjibaku di laboratorium. Senin (28/7) tepat pukul 08.00 JST saya berangkat ke Kobe dari Osaka untuk melaksanakan Shalat Ied di Masjid Kobe. Masjid Kobe ini didirikan sekitar tahun 1935 dan merupakan masjid pertama di Jepang. Di samping telah berusia tua, masjid ini juga merekam jejak sejarah tetap utuh dan tegak di tengah-tengah reruntuhan di kala terjadi gempa bumi besar sekitar tahun 1995. Shalat Ied di masjid Kobe ini dipadati warga negara asing dari Arab, Mesir, Pakistan dan Turki. Perjalanan satu jam ditempuh dari Osaka menuju Kobe dengan moda transportasi kereta.

kobe

Suasana usai shalat ied di masjid kobe

Suasana lebaran di Osaka tidak begitu terasa. Tidak ada libur resmi dari kampus maka saya mengajukan izin ke Professor untuk melaksanakan shalat Ied di pagi hari, usai shalat Ied saya pun bergegas segera kembali ke kampus untuk melaksanakan rutinitas di lab seperti hari-hari biasa, lebaran disini tidak ada suara gemuruh takbir dan bedug yang saling bersahutan antar masjid, tidak ada acara saling kunjung ke sanak saudara dan handai taulan, tidak ada hidangan kue khas lebaran serta tidak ada acara televisi bernuansa lebaran yang dapat membuat suasana lebaran begitu melekat di hati.

Tentunya untuk mengobati kerinduan suasana lebaran khas Indonesia. Saya dan teman-teman mengadakan acara kumpul-kumpul sekedar untuk berbagi cerita dan bercanda ria pada malam harinya. Acara digelar pukul 19.00 JST, tidak ada persiapan khusus sebelumnya karena sebagian dari kita usai menunaikan shalat Ied langsung bergegas menuju lab masing-masing seperti hari-hari biasa. Dari diskusi yang hangat dan singkat via jejaring sosial LINE, ada rekan yang menawarkan diri membawa ketupat, sambal goreng ati, opor ayam, rendang, serundeng, es krim , semangka dan minuman.  Acara silaturahmi ini berlangsung dengan penuh kebahagiaan menyambut lebaran, sembari dengan lahapnya menyantap ketupat, opor ayam dan sambal goreng ati, kita saling tegur-sapa diselingi bersenda-gurau ditemani dengan lantunan lagu-lagu bernuansa lebaran. Dengan begitu, walau berada di negeri orang, kita bisa merasakan atmosfer lebaran seperti di Indonesia.

lebaran-kumpul

Suasana acara silaturahmi menyambut lebaran

Seiring dengan hadirnya Hari Raya Idul Fitri, izinkan saya dan teman-teman di Osaka memohon maaf lahir batin kepada rekan-rekan semua. Semoga kita termasuk orang yang kembali ke fitrahnya dan senantiasa diberi kekuatan iman untuk selalu istiqomah menjalani kehidupan sesuai dengan aturan Allah SWT. Amiin. Dari Osaka, Jepang, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Osaka, 28 Juli 2014

Belajar Puasa dari Jepang

antri

Teratur dalam antrian masuk ke bus

Berpuasa tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari , tetapi juga harus bisa menahan diri dari segala macam hal yang membatalkan puasa, menahan amarah, hawa nafsu dan menghindari dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa itu sendiri.

Berpuasa di Jepang mengajarkan banyak hal bagi saya. Pasalnya, walaupun mayoritas penduduknya beragama shinto tetapi mereka memiliki sikap yang “islami”. Semangat bushido dalam film yang berjudul The Last Samurai sebagai latihan spiritual menaklukan dirinya sendiri untuk menahan nafsu nampaknya tercermin dalam kehidupan sehari hari guna mencapai disiplin diri. Saya merasa perlu mencontoh sikap baik tersebut dalam menjalani kehidupan sehari hari.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari karakter orang Jepang yang layak di-ulik disini. Misalnya, Saat di dalam bus dan kereta mereka cenderung diam, tidak mengobrol, tidak berisik, tidak ngegosip ria karena tidak ingin menganggu orang-orang di sekitar. Sikap pengemudi mobil dan bus di Jepang juga perlu dicontoh, saat ada keperluan ke kampus suita saya selalu memanfaatkan shuttle bus service. Di perjalanan, sang pengemudi sabar  menahan diri tidak saling serobot dalam mengemudi. Inilah sebagai contoh nyata bahwa mereka ternyata juga berpuasa menahan diri untuk tidak berisik, mengobrol di dalam bus dan kereta demi menghormati orang lain di sekitarnya, mereka menahan diri untuk tidak saling serobot dan kebut-kebutan dalam mengemudi.

Selan itu, sikap senyum pun diiyakini orang Jepang merupakan salah satu sikap pengendalian diri dalam masyarakat Jepang. Orang Jepang dalam mengungkapkan perasaan tidak berlebihan. Di kala gembira tidak sampai teriak-teriak atau tertawa lepas dan di kala sedih tidak perlu menangis meraung-raung. Disinilah esensi dari sikap senyum untuk dapat mengendalikan perasaan atau emosi. Tidak hanya itu, pengendalian diri pun tercermin dari sikap malu. Mereka malu ketika berbuat kesalahan / sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Dari sikap malu tersebut diikuti dengan sikap pengendalian diri. Malu menyalip antrian membeli tiket kereta dan di halte bus sehingga mereka berusaha mengendalikan diri bersabar dalam antrian, malu melanggar lalu lintas saat menyeberang jalan sehingga mereka berusaha mengendalikan diri untuk tidak melanggar peraturan lalu lintas,  taat menunggu traffic light  menyala hijau meski tak ada lagi kendaraan yang melintas di jalan. Sikap meminta maaf pun sering mereka tunjukkan dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, saat saya perjalanan pulang dari kampus menuju tempat kost dengan bersepeda. Di tengah perjalanan menabrak orang Jepang, saya seharusnya meminta maaf lebih dulu, akan tetapi sudah keduluan orang Jepang tersebut mengucapkan “gomennasai” yang artinya “maaf”. Di sini saya belajar dalam hal pengendalian diri untuk tidak cepat marah.

Orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari menerapkan ungkapan lama “Kunshi wa hitori o tsutsushimu“, yang artinya “Orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri”. Disini tersirat bahwa menjaga perilaku sendiri (pengendalian diri) selalu mereka tunjukkan dengan konsisten, meski orang lain tidak ada yang melihat.

Dari karakter orang Jepang tersebut, saya mempelajari esensi dasar berpuasa itu sebenarnya tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari tetapi juga berpuasa mengendalikan diri untuk menghormati orang lain dan tidak menganggu orang lain. Pengendalian diri tidak hanya dilakukan saat siang hari ketika berpuasa di bulan ramadan namun harus dilakukan konsisten selama hidup.

Osaka, 24 Juli 2014

Cangkru’an Ramadan di Osaka

Malam ini saya benar-benar teringat masakan Ibu di kampung halaman terutama saat beliau memasak sayur lodeh. Saya suka sekali masakan sayur lodeh dengan lauk tahu dan diberi sedikit sambal. Ingatan itu begitu kuat meletup bak hanabi yang meletup-letup di kala pergantian tahun. Pasalnya, malam ini saya dan beberapa teman yang tengah menuntut ilmu di Osaka University secara spontan mengadakan buka puasa bersama bertempat di apartemen Mbak Murni dengan menu utama yakni sayur lodeh.

Buka puasa bersama mulanya memang tidak direncanakan. Saya dan beberapa rekan mempunyai kebiasaan saling sapa, ejek, becanda, bergurau bahkan koordinasi kegiatan-kegiatan PPI Osaka-Nara melalui jejaring sosial LINE. Di kala siang hari, cuaca terasa menyengat di tanah Osaka tiba-tiba ada salah satu rekan yang melempar topik pembicaraan takjil dan keinginan buka puasa bersama di salah satu tempat di Osaka University, Toyonaka Campus. Tidak perlu menunggu satu menit, topik hangat nan membahagiakan itu disambut rekan-rekan dengan cepat. Ada yang mengusulkan tempat buka puasa bersama di kampus dengan menu seadanya, ada yang mengusulkan di rumah salah satu rekan, ada pula yang mengusulkan dibuat piket masak. Kita semua memang mempunyai keinginan paling tidak seminggu diadakan satu atau dua kali buka puasa bersama karena kita sudah merasa seperti keluarga sendiri. Jumpa dan saling sapa serta melihat senyum teman-teman adalah kebahagian tersendiri setelah seharian penuh berkecimpung melakukan eksperimen di laboratorium.

Di tengah diskusi yang cukup hangat dan mengasyikkan itu, tiba-tiba salah satu rekan kita, Mbak Murni menawarkan buka puasa bersama di apartemen beliau. Tak ada persiapan khusus sebelumnya. Jadwal berkumandangnya adzan magrib di Osaka pukul 19.17 JST sedangkan pkl 18.00 JST kita masing-masing masih berada di laboratorium. Tepat pukul 18.15 JST, saya dan Mbak Murni meluncur ke apartemen untuk membantu memasak makanan. Begitu sampai apartemen, sudah nampak hidangan es buah yang menggiurkan dan mempesona dibuat dengan sepenuh hati oleh suami Mbak Murni (Mas bambang). Saya segera menawarkan diri untuk membantu memasak. Baru beberapa menit saya mengupas pepaya, berdatangan rekan-rekan yang lain (Mbak Dhisa, Mbak Nurma, Mas Ari, Mas Viko dan Mbak Retno). Akhirnya kita semua saling bantu membantu memasak menyiapkan hidangan buka puasa, ada yang menggoreng bakwan, membuat spaghetti, sambal terasi, sayur lodeh, ayam goreng, dan memotong semangka.

menu_mb Murni

Menu buka puasa cangkru’an Ramadan

Tak terasa tiba-tiba pkl 19.17 JST terdengarlah alunan merdu adzan Magrib dari aplikasi Muslim Pro di iphone. Segeralah kita bergegas untuk berbuka puasa dengan menyantap es buah yang manis, segar dan mencicipi kue Brownies. Alhamdulillah. Usai puas menyantap segelas es  buah kita segera menunaikan salat Magrib berjamaah. Sungguh terasa sekali persaudaraan dan kekeluargaan selama merantau di tanah Osaka. Meski jauh dari keluarga di tanah air tetapi Allah SWT memberikan saudara di rantau yang selalu ada di saat sedang sedih, susah, senang dan bahagia. Inilah persaudaraan yang sesungguhnya.

kumpul di Mb Murni

Buka puasa bersama di apartemen Mbak Murni

Setelah menunaikan salat Magrib berjamah segera menyantap masakan cita rasa Indonesia yakni sayur lodeh dengan lauk ayam goreng, bakwan disertai dengan sambal terasi. Alhamdulillah, betapa luar biasa nikmat Allah SWT. Walaupun di perantauan yang jauh dari tanah air, kita masih bisa menikmati sayur lodeh, bisa merasakan indahnya kekeluargaan, dan bisa menunaikan ibadah puasa Ramadan dalam keadaan sehat.

Usai makan, kita saling tegur-sapa, bersenda-gurau dan berbincang terkait riset di kampus. Tepat pukul 20.40 JST kita sampai pada titik yang mengakiri cangkru’an kali ini. Ada yang langsung pulang ke apartemennya, ada yang pergi ke laboratorium lagi untuk melanjutkan riset dan ada juga yang ke International House, Toyonaka Campus untuk menunaikan salat isya dan tarawih bersama dengan international student dari berbagai negara.

Terima kasih Mbak Murni sekeluarga dan rekan-rekan semua. Dengan silaturahim kita bisa merasakan atmosfer cangkru’an Ramadan seperti di kampung halaman.  Semoga aktifitas buka puasa bersama hari ini membawa berkah untuk kita semua. Amiin.

Osaka, 30 Juni 2014

Malam Menyongsong Ramadhan di Osaka

Berpuasa di Osaka memiliki nuansa tersendiri. Pasalnya, dentuman dahsyat suasana Ramadhan tidak semeriah di Tanah Air. Bahkan tidak ada sentuhan suasana Ramadhan di Jepang, tak terasa nikmatnya kolak pisang dan takjil saat berbuka puasa, tak terlihat acara sinetron religi dan acara-acara keagamaan menjelang sahur, tak terlihat musholla/langgar atau masjid menjadi penuh sesak oleh serbuan jamaah yang ingin menunaikan salat tarawih. Di kampung halaman, suasana Ramadhan sangat berkesan, dulu saat masih kecil usai buka puasa dilanjutkan dengan menyalakan kembang api bersama teman-teman, gelapnya malam menjadi benerang seterang hati menyambut malam Ramadhan, kemudian salat Isya dan tarawih berjamaah di musholla. Dentuman Ramadhan di Tanah Air sangat berkesan dan menyentuh kalbu yang sekarang tak kujumpai di Jepang.

Kini kali kedua, saya menikmati suasana Ramadhan di Jepang. Selama bulan Ramadhan, saya menjalani aktifitas seperti biasa. Bulan Ramadhan di Jepang tahun ini bertepatan dengan musim panas dengan suhu yang akan naik terus sampai bulan Agustus. Imsak sekitar pukul 02.52 JST dan magrib sekitar pukul 19.16 JST. Saat berangkat ke kampus mengayuh sepeda dengan jalan yang naik turun membuat tenggorokan terasa cepat kering. Meskipun suasananya panas, lembab dan berkeringat, bersyukur akifitas di kampus lebih banyak di ruangan yang ber-Ac. Tentu saja, menjalani Ramadhan di Jepang menimbulkan kerinduan yang mendalam pada keluarga dan juga suasana Ramadhan di Tanah Air (kerinduan akan lantunan adzan, salat berjamaah di musholla yang penuh dengan jamaah serta makanan khas yang mudah didapat seperti kolak, takjil, dll)

Oleh sebab itu, pada hari sabtu, 28 Agustus 2014, saya dan 15 mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Osaka University mengadakan acara kumpul-kumpul dan makan bersama untuk mengobati rasa rindu  akan kehangatan keluarga di kampung halaman dan suasana Ramadhan di Tanah Air. Kami berkumpul di salah satu apartemen rekan kami (Mas Viko). Setiap orang yang datang membawa makanan dan minuman, ada yang membawa batagor, gulai, mie goreng, bubur kacang ijo, risoles, dadar gulung, buah semangka dan juga melon. Makanan dibuat dengan bahan-bahan seadanya yang bisa didapat di Osaka. Uniknya dari sekian banyak masakan Indonesia, menu yang sangat disukai dan dijadikan pilihan utama adalah gulai dan batagor yang membuat kenyang.

makanan

Hidangan makanan menyambut datangnya bulan Ramadhan

Salat Magrib berjamaah pkl 19.20 JST mengawali rangkaian acara Malam Menyongsong  Ramadhan. Setelah dengan lahapnya menyantap es buah, dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh rekan kita, Pak Bambang. Usai kultum, kami saling berucap mohon maaf lahir bathin untuk menyambut indahnya bulan Ramadhan dengan harapan bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati ikhlas, khyusuk dan mendapatkan hikmah dari amalan di bulan Ramadhan ini.

Acara yang dinanti-nanti pun tiba yakni menyantap makanan khas Indonesia yang sengaja kami buat dan hidangkan bersama untuk mengobati rasa rindu akan cita rasa makanan Indonesia bagi kita yang sedang menuntut ilmu di negeri sakura. Dengan begitu, kita bisa merasakan atmosfer Ramadhan di Indonesia.

senang

Senyum dan spirit malam menyongsong Ramadhan

Setiap orang mendapat jatah satu piring batagor dan satu gelas es buah. Sambil makan, tegur-sapa diselingi bersenda-gurau dapat menambah dan meningkatkan rasa persaudaraan, keakraban dalam menjalani kehidupan di Jepang untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dengan perasaan dan hati yang gembira.

Tepat pukul 21.00 JST, kami melaksanakan salat isya dan tarawih berjamaah. Usai salat tarawih, makan bersama yang kedua dengan menu gulai, martabak dilengkapi kue dadar gulung dan bubur kacang ijo. Makan bersama sambil bersenda-gurau dan berbincang kabar terbaru dari Indonesia (debat capres). Setelah dengan lahapnya menyantap makanan khas Indonesia tersebut, kami akhiri acara Malam Menyongsong Ramadhan dengan saling bermaaf-maafan dan pulang ke apartemennya masing-masing.

Alhamdulillah acara Malam Menyongsong Ramadhan berjalan dengan lancar penuh untaian tali kasih kekeluargaan yang bisa mengobati kerinduan kami akan susana Ramadhan di Tanah Air. Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan momentum kehadiran bulan suci Ramadhan untuk meraih kemuliaan dan kemenangan.

Osaka, 29 Juni 2014