• Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura

  • Follow me on Twitter

Liburan ke Arashiyama

photo1 (19)

Foto di kawasan Arashiyama, Kyoto

Berawal dari percakapan di kantin kampus, saya dan rekan-rekan  yang tergabung dalam grup LINE “Keluarga Toyonaka” berdiskusi ringan nan santai mengenai rencana liburan hari Minggu (17/11) untuk  menikmati keindahan alam negeri sakura di saat musim gugur. Pasalnya, di musim ini tersaji fenomena alam yang indah dimana dedaunan berubah warna dari hijau menjadi merah. Banyak yang menyebutnya dengan “Momiji”. Orang Jepang sendiri menyebutnya dengan “Momijigari” yang berarti pergi melihat daun momiji.

Minggu (17/11/2014), tepat pukul 10.18 waktu Jepang berangkat dari Stasiun Ishibasi menuju ke Stasiun Juso. Dari Juso pindah jalur Hankyu Kyoto Line menuju Stasiun Katsura.  Lalu, pindah jalur lagi Hankyu Arashiyma Line menuju ke stasiun terakhir yakni Stasiun Arashiyma.

Arashiyama merupakan obyek wisata pegunungan di sebelah barat Kyoto. Tak hanya keindahan dedaunan dan sungai yang disuguhkan tetapi juga terdapat kuil yang disekitarnya banyak ditumbuhi pohon momiji atau pohon maple. Di kawasan obyek wisata ini juga terdapat jembatan Togetsu yang membantu para pengunjung menyeberangi indahnya sungai Katsura

Tidak ada biaya masuk yang dikenakan kepada para pengunjung (alias gratis) untuk dapat menikmati indahnya pegunungan  Arashiyama yang eksotis ini. Sehingga wajar bila banyak orang Jepang dan orang asing yang datang. Selain itu, akses menuju lokasi juga sangat mudah karena dekat sekali dengan stasiun, baik jalur Hankyu Arashiyama, Keifuku Arashiyama dan JR Sagano.

Begitu masuk area Arashiyama nampak jembatan Togetsu dan Sungai Katsura yang sangat indah dan menarik. Setelah melintasi jembatan Togestu terlihat pemandangan pepohonan yang daunnya sudah mulai berubah warna menjadi kemerahan.

Saya dan teman-teman berjalan menuju Jembatan. Banyak orang yang memadati Jembatan tersebut. Pasalnya, di Jembatan tersebut, tak sedikit orang melintas sambil berhenti untuk mengambil foto.

Ada beberapa rute perjalanan untuk dapat menikmati indahnya alam Arashiyama.  Selain berjalan kaki juga bisa menaiki Torokko (kereta sederhana) dengan tarif sekitar 600 yen per orang. Bisa juga naik sejenis becak yang ditarik oleh manusia, biasa disebut dengan jingdikisa dengan tarif sekitar 2000 yen per orang. Saya dan teman-teman sengaja berjalan kaki supaya puas menikmati pemandangan sambil berfoto ria.

Usai puas berfoto dengan background daun maple yang sdh mulai memerah. Saya dan teman-teman menuju hutan bambu yang terletak di sebelah utara warisan dunia Kuil Tenryu-ji.  Kawasa hutan bambu ini dikenal dunia dengan sebutan “Sagano Bamboo Forest”.

Pohon bambu sengaja dikondisikan tumbuh teratur sehingga terlihat elok. Saat berjalan menyusuri hutan bambu ini, saya teringat pohon bambu di desa. Dulu, saat masih SD sering bermain disekitar area yang ditumbuhi banyak pohon bambu. Namun, pohon-pohon bambu tersebut tidak tumbuh dengan teratur, bercampur antara pohon induk dan anaknya sehingga jauh dari kesan indah. Hal ini berbeda dengan hutan bambu yang berada di kawasan Arashiyama ini. Konon kabarnya, di setiap bulan Desember, jalan setapak di hutan bambu ini diterangi lampu di kala malam hari.

Setelah dari hutan bambu, saya melanjutkan perjalanan menuju tepi Sungai Hozigawa. Di sungai ini ada perahu- perahu kecil yang bisa disewa untuk menikmati pemandangan indah Arashiyama melalui jalur sungai.

Usai menikmati keindahan alam Arashiyama, saya dan teman-teman menggelar tikar kecil untuk istirahat, sholat dzuhur dan makan siang bersama.  Di sekitar area santai ini juga banyak kios yang menjual masakan khas Jepang. Untuk makan siang bersama, diantara kami ada yang membawa onigiri nasi goreng, nasi kuning, snack dan minuman dalam jumlah berlebih dengan tujuan dibagikan ke rekan-rekan lainnya. Terasa sekali suasana kekeluargaan di rantau.

Usai makan siang bersama, saya dan rekan-rekan pulang ke apato (tempat kost). Alhamdulillah bisa menikmati suasana kekeluargaan di tanah rantau dengan sajian pemandangan Arashiyama yang merupakan refleksi dari bagaimana alam, budaya dan sejarah bertautan menjadi satu menjadi suguhan yang menarik.

Kyoto , 17 Nopember 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: