• Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura

  • Follow me on Twitter

Belajar Puasa dari Jepang

antri

Teratur dalam antrian masuk ke bus

Berpuasa tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari , tetapi juga harus bisa menahan diri dari segala macam hal yang membatalkan puasa, menahan amarah, hawa nafsu dan menghindari dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa itu sendiri.

Berpuasa di Jepang mengajarkan banyak hal bagi saya. Pasalnya, walaupun mayoritas penduduknya beragama shinto tetapi mereka memiliki sikap yang “islami”. Semangat bushido dalam film yang berjudul The Last Samurai sebagai latihan spiritual menaklukan dirinya sendiri untuk menahan nafsu nampaknya tercermin dalam kehidupan sehari hari guna mencapai disiplin diri. Saya merasa perlu mencontoh sikap baik tersebut dalam menjalani kehidupan sehari hari.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dari karakter orang Jepang yang layak di-ulik disini. Misalnya, Saat di dalam bus dan kereta mereka cenderung diam, tidak mengobrol, tidak berisik, tidak ngegosip ria karena tidak ingin menganggu orang-orang di sekitar. Sikap pengemudi mobil dan bus di Jepang juga perlu dicontoh, saat ada keperluan ke kampus suita saya selalu memanfaatkan shuttle bus service. Di perjalanan, sang pengemudi sabar  menahan diri tidak saling serobot dalam mengemudi. Inilah sebagai contoh nyata bahwa mereka ternyata juga berpuasa menahan diri untuk tidak berisik, mengobrol di dalam bus dan kereta demi menghormati orang lain di sekitarnya, mereka menahan diri untuk tidak saling serobot dan kebut-kebutan dalam mengemudi.

Selan itu, sikap senyum pun diiyakini orang Jepang merupakan salah satu sikap pengendalian diri dalam masyarakat Jepang. Orang Jepang dalam mengungkapkan perasaan tidak berlebihan. Di kala gembira tidak sampai teriak-teriak atau tertawa lepas dan di kala sedih tidak perlu menangis meraung-raung. Disinilah esensi dari sikap senyum untuk dapat mengendalikan perasaan atau emosi. Tidak hanya itu, pengendalian diri pun tercermin dari sikap malu. Mereka malu ketika berbuat kesalahan / sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Dari sikap malu tersebut diikuti dengan sikap pengendalian diri. Malu menyalip antrian membeli tiket kereta dan di halte bus sehingga mereka berusaha mengendalikan diri bersabar dalam antrian, malu melanggar lalu lintas saat menyeberang jalan sehingga mereka berusaha mengendalikan diri untuk tidak melanggar peraturan lalu lintas,  taat menunggu traffic light  menyala hijau meski tak ada lagi kendaraan yang melintas di jalan. Sikap meminta maaf pun sering mereka tunjukkan dalam kehidupan sehari hari. Misalnya, saat saya perjalanan pulang dari kampus menuju tempat kost dengan bersepeda. Di tengah perjalanan menabrak orang Jepang, saya seharusnya meminta maaf lebih dulu, akan tetapi sudah keduluan orang Jepang tersebut mengucapkan “gomennasai” yang artinya “maaf”. Di sini saya belajar dalam hal pengendalian diri untuk tidak cepat marah.

Orang Jepang dalam kehidupan sehari-hari menerapkan ungkapan lama “Kunshi wa hitori o tsutsushimu“, yang artinya “Orang hebat selalu menjaga perilakunya, meskipun sedang sendiri”. Disini tersirat bahwa menjaga perilaku sendiri (pengendalian diri) selalu mereka tunjukkan dengan konsisten, meski orang lain tidak ada yang melihat.

Dari karakter orang Jepang tersebut, saya mempelajari esensi dasar berpuasa itu sebenarnya tidak hanya sekedar menahan rasa lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari tetapi juga berpuasa mengendalikan diri untuk menghormati orang lain dan tidak menganggu orang lain. Pengendalian diri tidak hanya dilakukan saat siang hari ketika berpuasa di bulan ramadan namun harus dilakukan konsisten selama hidup.

Osaka, 24 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: