• Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura

  • Follow me on Twitter

Jangan takut kuliah karena biaya

Awalnya, aku tidak pernah menyangka bisa merasakan pendidikan hingga jenjang kuliah. Ya, tak pernah menyangka, dulu aku berpikiran anak seorang penjual jamu tradisional seperti saya mana mungkin bisa melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi, hampir saja setelah lulus SMA aku tidak meneruskan kuliah karena takut biaya kuliah yang bagiku saat itu sangat mahal.

Ternyata, Allah memberiku lebih, aku bisa melanjutkan kuliah S-1 di Universitas Negeri Surabaya, S-2 di Universitas Indonesia, saat ini baru saja menyelesaikan S-2 di Universitas Osaka dan baru akan memulai program S-3 di Universitas Osaka, Jepang.

Sungguh, ini semua di luar nalar saya, ini adalah nikmat Allah SWT yang harus aku syukuri. Doa, usaha, ikhtiar dan tawakal menjadi kunci perjuanganku. Kalau teman-temanku bilang aku hebat, jujur aku tidak hebat, kalau ada teman bilang aku pintar, jujur aku tidak pintar. Menurutku ini semua bukan karena aku pintar atau hebat, tapi aku hanya beruntung saja dan tentunya dibalik keberuntungan itu harus ada effort yang harus dikeluarkan untuk menuju keberuntungan itu.

Masa kuliah S-1 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) adalah masa terberatku secara finansial, saat itu yang menjadi tulang punggung keluarga adalah ibuku sebagai penjual jamu tradisional, setiap harinya kadang laku kadang tidak. Tidak lakupun sering. Dengan kondisi seperti itu, hampir saja aku urungkan niat untuk kuliah. Namun, hati tetap berkata aku harus kuliah, entah bagaimana caranya, aku harus kuliah. Rasa ingin kuliah di kampus ternama pasti ada, namun saya urungkan karena masalah finansial. Dengan pelan-pelan aku menyampaikan keinginan kuliah pada Ibu, namun Ibu belum setuju, beliau bilang lebih baik kerja dulu, setelah bisa nabung baru melanjutkan kuliah. Namun saya tetap meyakinkan Ibu bahwa anak miskin harus tetap bisa kuliah, biaya kuliah jangan sampai menjadi halangan anak-anak miskin, anak-anak kurang beruntung secara finansial untuk terus sekolah. Akhirnya, pelan-pelan saya meyakinkan Ibu kembali supaya mendapat restu dari beliau. Alhamdulillah beliau mengijinkan saya untuk kuliah walau belum tahu nanti bagaimana cara membayar biaya kuliah, biaya kost, biaya hidup, dll.

Begitu lulus SMA, Alhamdulillah saya diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), selama masa perjuangan kuliah di Unesa inilah aku benar-benar merasakan perjuangan. Ya…bagiku saat itu perjuangan yang luar biasa karena selain kuliah harus bekerja menjadi guru privat dari rumah ke rumah. Begitu kuliah selesai, langsung mengajar privat dari rumah ke rumah, tak jarang sampai asrama malam hari. Kadang, demi bertahan hidup di Surabaya, kuliah di nomor duakan, yang penting ya cari uang supaya bertahan hidup.

Tak lama aku menjadi guru privat, tiba saatnya pengumuman saya mendapat beasiswa TPSDP (Technological and Professional Skills Development Sector Project). Ya, saya katakan dengan beasiswa tersebut Allah memberiku lebih. Manusia, keluarga tidak ada yang sempurna, dibalik kekuranganku, ternyata Allah memberiku lebih, memberi lebih disaat yang tepat. Beasiswa TPSD tersebut aku dapatkan hingga aku menyelesaikan pendidikan sarjana. Puji syukur, dengan doa, usaha, ikhtiar, tawakal selama berjuang di kampus Unesa, aku bisa mendapat gelar sarjana dengan predikat yudisiawan terbaik se-FMIPA saat itu (September 2009). Bersyukur sekali, yang awalnya tidak yakin bisa kuliah, akhirnya bisa kuliah dan lulus dengan predikat yudisiawan terbaik. Yang aku rasakan, semua ini bukan karena aku pintar, hebat tapi lebih kepada berusaha keras melakukan yang terbaik atas kesempatan yang diberikan Allah SWT. Bagiku, bisa merasakan kuliah adalah nikmat-Nya yang harus aku syukuri dengan kerja keras mencapai hasil yang maksimal. Mendengar kabar kelulusanku tersebut, betapa bahagianya ibu dan almarhum bapakku saat itu, meskipun saat prosesi wisuda beliau tidak bisa hadir, tapi aku tersenyum bahagia dan bisa membuktikan ke Ibu kalau anak penjual jamu tradisional bisa menyelesaikan pendidikan sarjana.

Ternyata, hati ini tidak mau berhenti sekolah, aku pun berusaha untuk bisa melanjutkan kuliah ke jenjang magister. Saat itu, cara berpikirku sempit dan minder masih terbawa mengingat biaya kuliah untuk jenjang S-2 sangat mahal bagiku. Hati terus mendesak untuk secepatnya. Namun, lagi-lagi masalah finansial yang menjadi halangan bagiku untuk segera melanjutkan kuliah jenjang S-2. Aku pun memberanikan diri mengikuti ujian masuk S-2 UI melalui jalur SIMAK-UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia) program pascasarjana. Alhamdulillah diterima. Namun, saat itu masih ragu-ragu diambil atau tidak karena lagi-lagi masalah biaya kuliah dan biaya hidup menjadi beban pikiranku saat itu.

Aku beruntung disaat mulai bingung dengan biaya kuliah magister dan biaya hidup di Depok, aku mendapat informasi beasiswa pertukaran pelajar dengan beasiswa JASSO (Japan Student Services Organitation). Aku pun mencoba mendaftar dan Alhamdulillah diterima sebagai exchange student di Osaka University selama setahun dengan beasiswa JASSO. Aku segera mengurus cuti akademik dan mulai mempersiapkan dokumen-dokumen seperti paspor, visa dll. Ini menjadi pengalaman pertamaku naik pesawat ke luar negeri. Jadi, Aku baru mengikuti perkuliahan di UI selama seminggu, sudah harus cuti akademik dan berangkat ke Jepang. Lagi-lagi keberuntungan selalu menyertai karena secara prosedur aku belum diperkenankan cuti akademik, namun dengan berbagai pertimbangan dan izin Allah SWT, cuti akademik khusus kudapatkan.

Aku pun berangkat ke Jepang. Berangkat dari bandara Seokarna-Hatta seorang diri. Tiada satupun keluarga / saudara yang mengantar. Orang tua dan saudara berada di desa dan saat itu orang tua dalam keadaan sakit. Aku kuatkan diriku untuk berangkat. Karena aku yakin jalan yang aku tempuh adalah jalan yang benar. Aku harus berani keluar dari zona nyaman. Aku harus berani meninggalkan Ibu di desa untuk sementara demi membahagiakan beliau. Aku tidak boleh berhenti dan diam. Happiness is not something you postpone for the future; it is something you design for the present. Bismillah…, aku berangkat dengan keyakinan bahwa ini adalah jalan yang aku ukir untuk impianku.

Begitu sampai Jepang, aku langsung menuju ke dormitory. Lokasinya agak jauh dari kampus. Namanya juga bocah ndeso pertama kalinya ke luar negeri. Bergegas mencari warnet supaya bisa memberi kabar ke saudara kalau sudah sampai Jepang dengan selamat. Muter sana muter sini. Alhasil, tidak ada warnet yang kutemukan. Kalau teringat kejadian ini. Aku sering tertawa sendiri.

Selama belajar di kampus Osaka University sebagai exchange student. Banyak hal yang kudapatkan baik dari segi akademik maupun non akademik. Aku merasakan sekolah di Jepang dengan beasiswa benar-benar bisa fokus belajar tanpa memikirkan beban biaya seperti yang aku alami saat kuliah sarjana di kota Surabaya dan magister di kota Depok. Tidak hanya nyaman belajar, dari uang beasiswa tersebut juga bisa ditabung dan membantu orang tua di desa. Saat itulah, aku merasakan betapa bermanfaatnya perjuanganku untuk orang tua. Karena hanya inilah kebahagiaan seorang anak, yakni disaat bisa membantu orang tua dan melihat orang tua berkecukupan untuk kebutuhan sehari hari.

Selama menjalani kegiatan di Osaka sebagai exchange student. Aku berusaha untuk hemat, masak sendiri dan ke kampus selalu bawa bekal. Uang dari beasiswa aku kumpulkan untuk biaya kuliah magister di Universitas Indonesia jika program exchange student sudah selesai. Ini bagian perencanaanku yang sdh aku susun sedemikian rupa supaya bisa membiayai kuliah magister hingga selesai.

Program exchange student selama setahun telah usai. Aku segera pulang ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di UI. Karena keinginan yang besar untuk segera lulus. Aku ambil semua mata kuliah semester satu dan tiga di semester pertama. Saat semester kedua, aku ambil mata kuliah semester dua dan thesis. Berat memang, hampir setiap hari pulang dari kampus pkl 21.00 WIB, sabtu minggu pun aku sempatkan untuk mencicil thesis sedikit demi sedikit.

Saat menjalani perkuliahan di UI. Aku juga mendaftar program beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho). Masih teringat sekali, saat ujian dan interview bertepatan dengan periode ujian semester di UI. Lari sana, lari sini untuk ujian beasiswa dan semester. Awalnya, aku tidak yakin bisa mendapatkan beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) karena minimnya persiapan dan saat itu juga sedang sibuk-sibuknya menjalani kuliah di UI. Yang penting aku berusaha maksimal, terbaik yang bisa aku lakukan.

Setelah melewati proses pendaftaran, ujian dan interview. Aku menjalani kuliah seperti biasa. Hingga tiba saatnya pengumuman hasil seleksi. Tanggal 21 Juni 2012, aku mendapat email dengan subject : Selection result Monbukagakusho (MEXT) Scholarship. Setelah kubuka tertulis :

Dear Gagus Ketut,
I am pleased to inform you have been selected as Monbukagaksho (MEXT) Scholarship student after the final selection at MEXT.
Congratulations!

Aku masih tidak percaya, aku coba yakinkan diriku bahwa ini adalah kenyataan. Sampai aku sign out email, lalu sign in lagi. Aku baca pelan-pelan lagi. Tanpa kusadari air mata menetes karena senang dan juga terharu atas perjuangan ini. Aku pun langsung sujud syukur. Inilah jawaban Allah SWT atas doaku selama ini. Keinginan kuliah dan membantu orang tua di desa terpatri dalam hati sejak dulu. Yang aku rasakan sampai detik ini, aku mendapatkan beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) bukan karena aku hebat, bukan karena aku pintar. Namun, ini bagian dari keberuntunganku. Dan keberuntungan itu datang karena kesadaran diri dalam menangkap peluang-peluang. Segala peluang yang ada jangan disia-siakan atau dilewatkan. Dengan begitu, keberuntungan akan datang dengan sendirinya.

Setelah pengumuman beasiswa tersebut. Aku segera fokus untuk menyelesaikan kuliahku. Masih ada beberapa kelas dan thesis. Aku berjanji pada diri sendiri harus bisa lulus kuliah sebelum keberangkatanku ke negeri sakura. Setiap selesai kuliah, mencicil mengerjakan thesis jadi makanan sehari hari. Sabtu minggu pun thesis jadi prioritasku. Man Jadda Wa Jada (barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka pasti akan berhasil). Akhirnya dengan kerja keras tersebut, aku bisa menyelesaikan kuliah S-2 di UI dalam waktu dua semester.

Pada 28 september 2012, aku berangkat ke negeri sakura dan langsung masuk integrated course program yang akan ditempuh selama lima tahun. Yakni, dua tahun untuk jenjang master degree dilanjut tiga tahun untuk jenjang doctoral degree. Saat ini Alhamdulillah saya baru menyelesaikan program master degree dan baru akan lanjut untuk program doctoral degree.

Intinya, jangan pernah berhenti untuk berjuang secara konsisten. Jangan pernah berhenti berjuang karena keterbatasan atau kekurangan yang ada. Justru, rubahlah kekurangan dan keterbatasan sebagai kekuatan besar yang bisa mengantarkan kita pada cita-cita yang diberkahi oleh Allah SWT.

3 Tanggapan

  1. Semangat terus buat bos PPI ON 2014.

  2. Tanya ^^ itu program beasiswa kerja sama dengan kampus atau sendiri yak?

  3. Oh iya kak. Masih di osaka tidak? Rencana oktober saya dan teman diundang untuk seminar. Jika berkenan kami ingin bertanya seputar beasiswa hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: