Sanggar Budaya PPI ON Promosikan Angklung dan Tari Saman di Osaka

Foto1Teman-teman Sanggar Budaya PPI ON menampilkan Angklung di depan masyarakat Jepang

Sebagai bagian masyarakat Indonesia di perantauan (Osaka), hendaknya selalu memiliki kesadaran yang tinggi mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat setempat (Osaka). Kesadaran dan kepedulian ini terus di pupuk  oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Osaka Nara (PPI ON) melalalui klub Sanggar Budaya PPI ON.

Sanggar budaya PPI ON mempunyai kegiatan yang mewadahi kreativitas anggota dalam bidang seni budaya. Tujuannya untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia kepada masyrakat Jepang, dan menjadikan sanggar budaya PPI ON sebagai wadah silaturahim dan kerja sama antara pelajar Indonesia dengan masyarakat Jepang di Osaka terutama dalam aspek seni, sosial, dan budaya.

Meskipun dengan aktifitas dan tuntutan sebagai pelajar yang sibuk, di sisi lain teman-teman yang tergabung dalam Sanggar Budaya PPI ON masih peduli ikut serta mempromsikan budaya Indonesia.

“Harapannya melalui Sanggar Budaya PPI ON ini, kita dapat terus mengenalkan seni budaya Indonesia di luar negeri (khususnya Jepang) sehingga dapat meningkatkan minat masyarakat Jepang berkunjung ke Indonesia”, ungkap Neng Tanty Sofyana, anggota sanggar budaya PPI ON.

Tim angklung dan tari saman sanggar budaya PPI ON tampil memukau dihadapan masyarakat Jepang dalam acara Pentas Seni Indonesia 2014 yang diselenggarakan di Osaka University Hall, Juni 2014. Berawal dari situ, kini Sanggar Budaya PPI ON banyak menerima tawaran menampilkan angklung dan tari saman di beberapa event.

Sanggar budaya akhirnya melebarkan sayap tampil di dua acara multikultural sekaligus dalam satu hari yang diadakan oleh MAFGA (Minoh Association for Global Awareness) dan ETRE Toyonaka (pentas seni multikultural), Minggu (8/11/2014).

Pada pagi hari di kegiatan multikultural MAFGA, Sanggar budaya memainkan angklung lengkap dengan harmoni dan membawakan tiga lagu yaitu yamko rambe yamko, manuk dadali, dan bengawan solo sedangkan di siang hari tampil di kota lain (ETRE Toyonaka),  menampilkan tari saman dan juga memainkan angklung.

“Senang sekali bisa ikut mempromosikan seni dan budaya bangsa, kaget juga melihat antusiasme yang tinggi dari orang Jepang.  Kaget juga ada beberapa orang Jepang yang sudah mengenal baik angklung dan batik”, papar Gabriel Pramudita Saputra, anggota sanggar budaya PPI ON.

Sajian harmonisasi angklung dan tari saman yang menggambarkan kekompakan harmonis antar penari selalu membuat terkesima para penonton. Beberapa komentar pun disampaikan oleh para penonton, sebagian besar menyatakan kepuasannya menikmati sajian angklung dan tari saman dari Sanggar Budaya PPI ON.

“Nggak menyangka kalau antusiasme orang-orang Jepang sangat tinggi. Usai tampil angklung dan tari saman, ada beberapa orang Jepang yang datang untuk bertanya mengenai angklung dan tari saman dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Senang bisa ikut mempromosikan kebudayaan Indonesia di Jepang”, ungkap Dhisa Minerva, anggota sanggar budaya PPI ON.

Kesenian Indonesia yang ditampilkan Sanggar Budaya tak kalah saing dengan kesenian dari negara-negara lain pada acara multikultural tersebut karena Indonesia memiliki beragam suku dan budaya misalnya saja pada penampilan angklung membawakan lagu dari beragam suku yang tentunya masing-masing memiliki kekhasan tersendiri.

Minggu (7/12/2014), tim angklung Sanggar Budaya PPI ON juga berkesempatan tampil dalam acara serah terima jabatan ketua PPI ON. Pada kesempatan ini, tim angklung Sanggar Budaya PPI ON membawakan tiga buah lagu yakni rayuan pulau kelapa, manuk dadali dan ramko yambe ramko.

Sanggar budaya PPI-ON akan tetap memperkaya diri ke depannya terlebih dengan bergabungnya anggota-anggota baru yang memiliki bakat seni yang luar biasa baik seni tari, vokal, maupun musik. Hal ini juga dalam rangka persiapan menggelar acara yang lebih besar lagi, yakni “Pentas Seni Indonesia 2015” di Osaka.

Ps. Tulisan ini juga di muat di Tribunnews

http://www.tribunnews.com/internasional/2015/01/13/perhimpunan-pelajar-indonesia-di-osaka-nara-tampilkan-angklung-dan-tarian-tradisional

Presentasi TED Mewarnai Acara Serah Terima Jabatan Ketua PPI Osaka-Nara

Foto_kebersamaanFoto kebersamaan PPI ON

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Osaka-Nara (PPI ON) menyelengarakan acara Serah terima jabatan ketua PPI ON plus TED Talks ON (TED Talks dengan pembicara teman teman dari PPI Osaka-Nara) yang dikoordinatori oleh Murni Handayani dan Amalia Istiqlali Adiba di Toyokawa Community Center, Ibaraki, Osaka, Jepang, Minggu (7/12).

Gagus Ketut Sunnardianto resmi menanggalkan jabatannya sebagai ketua PPI ON periode 2013/2014 dalam acara serah terima jabatan yang berlangsung pada hari Minggu tersebut. Kini, tongkat kepemimpinan dipegang oleh Okie Dita Apriyanto. Turut hadir dalam acara tersebut, mantan Ketua PPI ON terdahulu (Nurmalia ON-1 2010/2011, Ryanto The ON-1 2011/2012, Muhammad Yusri Lukman ON-1 2012/2013) dan sekitar 80-an orang dengan penuh suka cita menghadiri  rangkaian acara.

Presentasi TED talks ON mewarnai acara serah terima jabatan tersebut. TED (Technology, Entertainment, Design) adalah sebuah organisasi non profit yang mempunyai motto “Ideas worth spreading” menampilkan para tokoh inspiratif di berbagai bidang untuk memberikan presentasi. Kini PPI ON mempunyai program serupa yang yang diberi nama “TED Talks ON” digagas sebagai ajang pemberi motivasi dan inspirasi kepada teman-teman PPI ON dengan pembicara dari teman-teman PPI ON sendiri.

“TED Talks ON diharapkan bisa memberikan warna tersendiri dalam upaya memberikan pengetahuan kepada teman-teman PPI ON mengenai betapa pentingnya belajar Leadership and Networking dari suatu organisasi dalam hal ini PPI ON”, papar Murni Handayani dan Amalia Istiqlali Adiba, koordinator acara TED Talks ON.

TED talks diawali dengan presentasi dari pembicara pertama, Abdi Pratama, ketua PPI Osaka-Nara periode 2008/2009 dan sekarang menjabat sebagai ketua Enjinia Nusantara (Komunitas professional yang bekerja dan bekarya di dunia industri di Jepang)

Abdi menyampaikan presentasi tentang “Kepemimpinan ala Enjinia Nusantara”. Presentasi disusun secara ringkas dan padat sehingga gagasan tersampaikan dengan baik. Dalam presentasinya, Abdi menekankan 3 prinsip penting untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik yakni itikad baik, dari hal sederhana dan dilanjutkan dengan gerakan bersama.

Di akhir presentasi, Abdi mengajak rekan-rekan PPI ON untuk merenungi kalimat penutup presentasi “Jangan bertanya apa yang sudah negara berikan kepadamu. Tapi bertanyalah apa yang sudah kita berikan kepada bangsa dan negara”

Pembicara kedua TED Talks ON, Farid Triawan, ketua PPI Jepang periode 2009/2010. Farid menyampaikan presentasi tentang pengalaman berorganisasi selama menjadi ketua PPI Jepang.

Dalam presentasinya, Farid menegaskan prinsip 3M (Mulai dari kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang) yang harus diterapkan untuk perubahan yang lebih baik. Beliau juga menceritakan pengalaman berorganisasi dan kegiatan-kegiatan PPI Jepang yang berhasil dilaksanakan saat menjadi ketua PPI Jepang periode 2009/2010.

Farid berpesan kepada rekan-rekan PPI ON bahwa kekuatan passion itu sangat penting, jangan menjadikan sukses sebagai tujuan, tetapi lakukan saja apa yang kita suka dan yakin benar, maka sukses akan datang dengan sendirinya. Presentasi disampaikan dengan penuh semangat hingga rekan-rekan PPI ON banyak yang terinspirasi.

Usai presentasi TED Taks ON, dilanjutkan dengan Deklarasi Sanggar Budaya PPI ON dengan mempresentasikan kegiatan-kegiatan Sanggar Budaya PPI ON yang disampaikan oleh Ryanto The. Usai presentasi, Sanggar Budaya PPI ON menampilkan sajian angklung. Tim angklung sanggar budaya PPI ON mengumandangkan tiga buah lagu yakni Rayuan Pulau Kelapa, Manuk Dadali dan Ramko Yambe Ramko.

“Biasanya kami tampil di depan orang Jepang atau audience international. Tujuannya berbeda, Kalau di depan orang asing, semangatnya untuk memperkenalkan Indonesia, kalau di depan WNI semangatnya untuk membangkitkan nasionalisme”, ungkap Nurmalia, anggota dari tim angklung sanggar budaya PPI ON.

Kali ini acara juga dimeriahkan oleh tim akustik PPI ON dengan gitaris handal PPI ON (Haryo Mirsandi, Jeremia Febrian) dan Vokalis PPI ON (Aswita Wulandari, Monika Nelly) yang membawakan tiga lagu pop dan satu lagu dangdut yang berhasil menghibur penonton.

Puncak acara ialah presentasi Laporan Pertanggungjawaban Ketua PPI ON 2013/2014 oleh Gagus Ketut Sunnardianto. Dalam presentasinya, Gagus memaparkan semua kegiatan yang telah sukses dilaksanakan selama kepengurusan PPI ON 2013/2014. Usai presentasi, dilaksanakan serah terima jabatan ketua PPI ON 2014/2015 kepada Okie Dita Apriyanto.

Demikianlah, TED talks ON bertemakan “Leadership and Networking”, deklarasi sanggar budaya PPI ON sebagai pelengkap acara serah terima jabatan ketua PPI ON periode 2014/2015. Semoga materi yang disampaikan dalam TED Talks ON bisa menginspirasi dan memotivasi rekan-rekan PPI ON.

Tulisan ini juga dimuat di Tribunnews : http://www.tribunnews.com/internasional/2014/12/22/serah-terima-jabatan-ketua-ppi-osaka-nara-diisi-presentasi-ted

Liburan ke Minoh Park

photo1 (19)

Foto di Kawasan Minoh Park

Senin (24/11/2014) saya dan rekan-rekan di Toyonaka mengadakan liburan ke Minoh Park untuk melihat fenomena alam yang indah saat musim gugur di Jepang dimana dedaunan berubah warna dari hijau menjadi merah yang dikenal dengan istilah “Momiji”.

Obyek wisata ini tak jauh dari tempat saya bermukim. Dari stasiun terdekat dengan apato (tempat kost) kira-kira hanya diperlukan waktu sekitar 6 menit untuk sampai di Stasiun Minoo via Hankyu Minoo Line dengan tarif 150 yen.

Sajian utama di Minoh park ialah Minoh waterfall  merupakan tempat yang dapat menarik wisatawan lokal dan mancanegara untuk melihat keindahan warna merah daun momiji dengan latar belakang air terjun. Selain air terjun juga terdapat kuil dan museum serangga.

Minoo Park berlokasi di wilayah utara Osaka, tepatnya di distrik Mino. Dan tidak dikenakan biaya (alias gratis) untuk dapat menikmati keindahan alam Minoh Park ini. Hanya saja ada biaya sebesar 270 yen untuk masuk ke museum serangga bagi orang dewasa.

Begitu sampai di pintu masuk Minoh Park (Stasiun Minoo), saya dan teman-teman bergegas menuju ke Minoh Park. Selama perjalanan banyak dijumpai kios-kios yang menjual makanan, buah-buahan, minuman dan souvenir. Tak hanya kios-kios yang menarik perhatian , tetapi juga beragam pepohonan yang daunnya sudah berubah menjadi kuning dan merah merupakan pesona tersendiri dari obyek wisata ini.

Tak jarang perjalanan terhenti dikarenakan asyiknya berfoto dengan latar belakang daun-daun yang rimbun nan indah dengan nuansa warna kuning dan merah tersebut.

Selama menyusuri jalan setapak, terdapat juga sungai Mino yang melengkapi indahnya kawasan pegunungan dan perbukitan Mino.  Setelah melewati lintasan hiking sekitar 45 menit, saya dan rekan-rekan akhirnya tiba di area dekat air terjun yang mengalir deras dan menimbulkan suara gemercik air yang dikenal dengan nama “Mino Waterfall” dengan tinggi mencapai 33 meter yang merupakan salah satu pesona dari obyek wisata Mino Park.

Osaka, 24 Nopember 2014

Liburan ke Arashiyama

photo1 (19)

Foto di kawasan Arashiyama, Kyoto

Berawal dari percakapan di kantin kampus, saya dan rekan-rekan  yang tergabung dalam grup LINE “Keluarga Toyonaka” berdiskusi ringan nan santai mengenai rencana liburan hari Minggu (17/11) untuk  menikmati keindahan alam negeri sakura di saat musim gugur. Pasalnya, di musim ini tersaji fenomena alam yang indah dimana dedaunan berubah warna dari hijau menjadi merah. Banyak yang menyebutnya dengan “Momiji”. Orang Jepang sendiri menyebutnya dengan “Momijigari” yang berarti pergi melihat daun momiji.

Minggu (17/11/2014), tepat pukul 10.18 waktu Jepang berangkat dari Stasiun Ishibasi menuju ke Stasiun Juso. Dari Juso pindah jalur Hankyu Kyoto Line menuju Stasiun Katsura.  Lalu, pindah jalur lagi Hankyu Arashiyma Line menuju ke stasiun terakhir yakni Stasiun Arashiyma.

Arashiyama merupakan obyek wisata pegunungan di sebelah barat Kyoto. Tak hanya keindahan dedaunan dan sungai yang disuguhkan tetapi juga terdapat kuil yang disekitarnya banyak ditumbuhi pohon momiji atau pohon maple. Di kawasan obyek wisata ini juga terdapat jembatan Togetsu yang membantu para pengunjung menyeberangi indahnya sungai Katsura

Tidak ada biaya masuk yang dikenakan kepada para pengunjung (alias gratis) untuk dapat menikmati indahnya pegunungan  Arashiyama yang eksotis ini. Sehingga wajar bila banyak orang Jepang dan orang asing yang datang. Selain itu, akses menuju lokasi juga sangat mudah karena dekat sekali dengan stasiun, baik jalur Hankyu Arashiyama, Keifuku Arashiyama dan JR Sagano.

Begitu masuk area Arashiyama nampak jembatan Togetsu dan Sungai Katsura yang sangat indah dan menarik. Setelah melintasi jembatan Togestu terlihat pemandangan pepohonan yang daunnya sudah mulai berubah warna menjadi kemerahan.

Saya dan teman-teman berjalan menuju Jembatan. Banyak orang yang memadati Jembatan tersebut. Pasalnya, di Jembatan tersebut, tak sedikit orang melintas sambil berhenti untuk mengambil foto.

Ada beberapa rute perjalanan untuk dapat menikmati indahnya alam Arashiyama.  Selain berjalan kaki juga bisa menaiki Torokko (kereta sederhana) dengan tarif sekitar 600 yen per orang. Bisa juga naik sejenis becak yang ditarik oleh manusia, biasa disebut dengan jingdikisa dengan tarif sekitar 2000 yen per orang. Saya dan teman-teman sengaja berjalan kaki supaya puas menikmati pemandangan sambil berfoto ria.

Usai puas berfoto dengan background daun maple yang sdh mulai memerah. Saya dan teman-teman menuju hutan bambu yang terletak di sebelah utara warisan dunia Kuil Tenryu-ji.  Kawasa hutan bambu ini dikenal dunia dengan sebutan “Sagano Bamboo Forest”.

Pohon bambu sengaja dikondisikan tumbuh teratur sehingga terlihat elok. Saat berjalan menyusuri hutan bambu ini, saya teringat pohon bambu di desa. Dulu, saat masih SD sering bermain disekitar area yang ditumbuhi banyak pohon bambu. Namun, pohon-pohon bambu tersebut tidak tumbuh dengan teratur, bercampur antara pohon induk dan anaknya sehingga jauh dari kesan indah. Hal ini berbeda dengan hutan bambu yang berada di kawasan Arashiyama ini. Konon kabarnya, di setiap bulan Desember, jalan setapak di hutan bambu ini diterangi lampu di kala malam hari.

Setelah dari hutan bambu, saya melanjutkan perjalanan menuju tepi Sungai Hozigawa. Di sungai ini ada perahu- perahu kecil yang bisa disewa untuk menikmati pemandangan indah Arashiyama melalui jalur sungai.

Usai menikmati keindahan alam Arashiyama, saya dan teman-teman menggelar tikar kecil untuk istirahat, sholat dzuhur dan makan siang bersama.  Di sekitar area santai ini juga banyak kios yang menjual masakan khas Jepang. Untuk makan siang bersama, diantara kami ada yang membawa onigiri nasi goreng, nasi kuning, snack dan minuman dalam jumlah berlebih dengan tujuan dibagikan ke rekan-rekan lainnya. Terasa sekali suasana kekeluargaan di rantau.

Usai makan siang bersama, saya dan rekan-rekan pulang ke apato (tempat kost). Alhamdulillah bisa menikmati suasana kekeluargaan di tanah rantau dengan sajian pemandangan Arashiyama yang merupakan refleksi dari bagaimana alam, budaya dan sejarah bertautan menjadi satu menjadi suguhan yang menarik.

Kyoto , 17 Nopember 2014

Berbagi Buku

1Berbagi buku “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”

Saya bersyukur bisa menempuh pendidikan di Jepang dengan beasiswa. Ini merupakan nikmat dari Tuhan yang wajib dan harus disyukuri dengan cara belajar keras dan berusaha membantu memberikan informasi beasiswa kepada adik adik di Indonesia yang ingin sekolah ke luar negeri, khususnya ke Jepang.

Selain sibuk menjadi mahasiswa di Osaka University, saya pun berusaha menyempatkan diri untuk terlibat di organisasi.

Bagi saya, aktif di organisasi sangat penting. Pasalnya, banyak ilmu yang didapatkan melalui organisasi, seperti kepemimpinan, jaringan, diplomasi yang tidak didapatkan di bangku perkuliahan. Oleh sebab itu, di sela-sela kuliah, saya sempatkan aktif di organisasi.

Saat ini saya diberi amanah menjadi ketua PPI Osaka-Nara (PPI ON) periode 2013-2014. Melalui PPI ON inilah saya bertemu dengan temen-teman dari berbagai latar belakang ekonomi. Tidak sedikit yang berasal dari kampung-kampung kecil dan masing masing orang mempunyai cerita perjuangan yang inspiratif.

Bagi saya berkontribusi tidak harus menunggu setelah menyelesaikan pendidikan. Sebagai mahasiswa harus bisa berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia. Berawal dari keinginan berkontribusi untuk pendidikan di Indonesia dan menyadari rekan-rekan PPI ON mempunyai ratusan kisah perjuangan demi perjuangan yang berbeda. Saya pun mengajak rekan-rekan di PPI ON untuk menulis kisah perjuangan mereka dalam mendapatkan beasiswa dan menempuh pendidikan di Osaka University.

Alhasil, ada 19 orang yang menulis kisah perjuangan demi perjuangan mendapat beasiswa dan menempuh pendidikan di Jepang, khususnya di Osaka University. Tulisan tersebut dibukukan dan diberi judul “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”.

Beberapa buku dijual di toko buku, ada juga yang dibagikan secara gratis kepada adik adik di Indonesia. Royalti hasil penjualan buku didonasikan untuk membantu pendidikan di Indonesia melalui program beasiswa Taiyou Indonesia Foundation (TIF) yang dirintis oleh teman-teman PPI ON pada 29 September 2013.

PPI ON berbagi motivasi dan inspirasi kepada adik adik di Indonesia dengan membagikan buku “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”. Diantaranya kepada adik asuh di Hoshizora Foundation, adik-adik di panti asuhan Al-Mujib, di madrasah Duriyat Mulia, SMK Sakti Gemolong.

Saya sempat pesimis, namun semangat saya untuk kuliah lagi muncul dari buku Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura dan secara tidak langsung menyemangati saya dari jauh. Saya langsung jatuh cinta dengan buku tersebut  terlebih sekarang saya skripsi dan hampir menyerah karena memang sedikit letih di tahap akhir ini“. Ungkap salah satu pembaca buku melalui email.

Sebagai salah satu penulis buku, saya senang sekali ketika membaca beberapa email dari adik adik di Indonesia yang termotivasi akan kisah perjuangan demi perjuangan yang diceritakan dalam buku tersebut.

Semoga buku tersebut bisa memotivasi, menginspirasi dan menjadi jendela dunia bagi generasi penerus bangsa.

 
Osaka, 11 Nopember 2014

Cara Pelajar RI Promosikan Makanan Indonesia dan Batik di Osaka, Jepang

1

Tim Stand “Makanan Selera Indonesia”

Osaka University kembali menggelar Festival Kampus yang dikenal dengan “Machikanesai” (Festival Machikane) pada 1 hingga 3 Nopember 2014 di Toyonaka campus, Osaka University, Machikane-cho, Toyonaka city.

Selain bertujuan untuk merayakan hari ulang tahun Osaka University dan menyambut mahasiswa baru yang berasal dari seluruh penjuru Jepang, “Machikanesai” merupakan aset bagi Osaka University untuk mengenalkan kampus kepada masyarakat setempat

Festival kampus  diikuti oleh mahasiswa Jepang, mahasiswa internasional dan juga dihadiri oleh para alumni Osaka University. Alumni ini datang untuk menghadiri acara “Obikai” atau reuni. Para alumni datang ke kampus untuk melihat dan menikmati acara festival dan bernostalgia menikmati masa-masa indah kembali menjadi mahasiswa.

Kompetisi olah raga, open laboratory, permainan, pertunjukkan panggung dan stand makanan  menyemarakkan rangkaian acara “Machikanesai”

Kali ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Osaka-Nara (PPI ON) turut berpartisipasi dalam event  “Machikanesai” yang berlangsung selama tiga hari (1-3 Nopember 2014) dengan menjual mie goreng dan bakwan di stand PPI ON yang diberi nama “Stand Makanan Selera Indonesia”.

Stand “Selera Indonesia” kali ini mengambil tema batik. Stand dirias dengan hal-hal yang bernuansa batik, mulai dari taplak meja batik dan anggota PPI ON yang bertugas di stand semuanya mengenakan pakaian batik.

Tema batik sengaja diangkat selain untuk membuat stand mencolok, juga untuk mengenalkan batik ke masyarakat Jepang.

Tak hanya itu, para anggota PPI ON juga menggunakan angklung untuk promosi makanan yang dijual. Suara merdu goyangan angklung bisa menarik perhatian para pengunjung yang sedang melintas di depan stand. Bahkan, tak sedikit yang ingin mencoba memainkan angklung.

 “Irasshaimasee…Indonesia no ryouri ikaga desu ka?” (Silahkan datang…Ingin mencoba makanan Indonesia?), teriak penuh semangat tim promosi PPI ON sambil memainkan angklung untuk menarik perhatian orang Jepang .

“Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampui”. Peribahasa yang cocok untuk kegiatan ini. Pasalnya, selain untuk mempererat persahabatan dan tali silaturahim antar anggota PPI ON, juga untuk mempromosikan makanan Indonesia, batik dan juga angklung. Bonusnya, PPI ON mendapatkan keuntungan yang lumayan besar dari hasil penjualan mie goreng dan bakwan.

Sabtu (1/11) hari pertama Festival Machikane. Sejak pagi hari hujan deras mengguyur kota Osaka. Kondisi tersebut tak menghalangi rekan-rekan PPI ON datang ke stand. Alhasil di hari petama festival terjual 127 porsi mie goreng dan 53 porsi bakwan.

Di hari kedua, Minggu (2/11) cuaca lebih bersahabat dan pengunjung pun lebih ramai. Seperti hari pertama, rekan-rekan PPI ON sangat kompak sekali dalam mengatur pembagian kerja mulai dari penerima order, kasir, koki mie goreng, koki bakwan, penyaji makanan dan tim promosi. Hasil penjualan pun meningkat dibanding hasil penjualan di hari pertama.

Di hari ketiga, Senin (3/11) bertepatan dengan hari libur nasional di Jepang, Hari Kebudayaan (Bunka no hi). Tak kalah ramainya dengan hari kedua festival.  Meski jumlah personel yang siap siaga di stand berkurang, tak mengurangi sedikit pun semangat rekan-rekan PPI ON berpromosi. Teriakan-terikan penuh semangat “Irasshaimasee…Indonesia no ryouri ikaga desu ka?” dan bunyi angklung mewarnai proses promosi hingga akhirnya banyak pengunjung yang datang membeli mie goreng dan bakwan. Tepat pukul 16.00 waktu Jepang, persediaan mie goreng sdh habis.

 “Selama tiga hari, sebanyak 469 porsi mie goreng dan 219 porsi bakwan terjual”, ungkap Tamara Larasati dan Jeremia Febrian, Koordinator Stand Makanan Selera Indonesia dalam event tersebut.

Pastinya, bagi rekan-rekan PPI ON kegiatan ini akan dikenang sepanjang usia dan semoga dengan turut berpartisipasinya PPI ON di acara Festival Kampus bisa semakin mengenalkan Indonesia kepada masyarakat Jepang.

Osaka, 7 Nopember 2014

Tulisan ini dimuat di liputan6 http://news.liputan6.com/read/2130503/cara-pelajar-ri-promosikan-makanan-indonesia-dan-batik-di-osaka

Enam Hari di Taiwan

sipDi depan National Palace Museum

Kebetulan, saya diberi kesempatan untuk mengikuti International Conference di Taiwan, “Recent Progress in Graphene Research 2014 (RPGR 2014)” yang diselenggarakan di Taipe. Sebenarnya selama kuliah di Jepang, sudah mengikuti beberapa kali conferences (mungkin sudah belasan kali) tapi semuanya diselenggarakan di Jepang. Jadi ini merupakan conferences yang kesekian kali tetapi conference yang pertama di luar Jepang.

Conference kali ini saya diberi kesempatan berpartisipasi dalam oral presentation dengan judul “Theoretical modeling of a bias-controlled kondo system in hydrogenated graphene vacancy” dan juga poster presentation dengan judul “Potential energy surface for hydrogenation reaction of graphene vacancy”.

Seminggu sebelum keberangkatan, belum sempat explore (berselancar ria via google) terkait Taiwan. Pasalnya, disibukkan dengan persiapan conference itu sendiri. Ada revisi ini dan itu dari sensei (profesor).  Bisa dibilang, sehari sebelum berangkat saya blm baca-baca terkait transportasi lokal dan belum persiapan bagaimana nanti di Taiwan.

Sabtu malam (20/9) baru mencari informasi terkait Taiwan. Mulai dari transportasi lokal, lokasi hotel, lokasi tempat conference dll. Sabtu malam di kala lagi asyik searching, tiba-tiba profesor mengirim email menginformasikan bahwa beliau khawatir dengan perjalanan saya esok dikarenakan taifun sedang mendekati Taiwan di hari yg sama dengan hari keberangkatan saya ke Taiwan.

Begitu mendapat email dari sensei (profesor), segera saya cek website Cathay Pacific. Dan benar, ada pemberitahuan bahwa “Typhoon Fung Wong is approaching Taiwan”. Ada kemungkinan flight di cancel. Yah, sempat agak khawatir, tp selalu berusaha tenang. Inshaa Allah selama berjuang di jalan Allah, Allah akan memberikan yang terbaik.

Minggu (21/09) tepat pukul 6.30 waktu Jepang saya berangkat dari apato (tempat kost) menuju stasiun hotarugaike. Dari stasiun hotarugaike ini saya naik limousine bus menuju Kansai International Airtport (KIX). Tepat pkl 8.50 waktu Jepang sampai terminal 1 KIX. Saya pun bergegas segera check-in ke counter C (Cathay Pasific).

Di bandara saya selalu update informasi secara online terkait Typhoon Fung Wong yang diberitakan sedang mendekati Taiwan. Lega…karena jadwal landing pesawat sekitar pkl 13.15 waktu Taiwan dan perkiraan si taifun akan datang pada sore harinya. Dan benar, sore harinya Typhoon Fung Wong melintasi Taiwan. Angin kencang dan hujan deras melanda kota Taipe.

Tepat pkl 13.15 tiba di Taiwan Taoyuan International Airport (TPE). Perjalanan masih sekitar 1 jam 30 menit untuk sampai di lokasi conference. Di lantai 1 bandara saya membeli tiket bus (Kuokuang Line No. 1819) sebesar 55 TWD (New Taiwan Dollar) menuju ke Taipe Main Station (TMS).

Taipe Main Station (TMS) ini besar sekali dan membuat saya bingung. Pasalnya, selain banyak orang yg melintas, TMS juga sebagai pusat perpaduan sistem transportasi publik baik MRT (jalur bawah tanah), kereta api konvensional, kereta api super cepat (disebut sebagai THRS, Taiwan High Speed Railway), bus dan taksi. Selain itu di TMS ini juga ada pusat perbelanjaan “Taipe City Mall”. Oleh sebab itu TMS sangat ramai dan membuat pendatang baru jadi bingung. Kabarnya TMS ini menjadi pusat keramaian Taipe.

Berdasarkan informasi dari panitia conference, saya pun langsung mencari MRT Tamsui-Xindian Line. Maklum baru pertama kali, muter-muter sana sini sekitar 30 menit di TMS baru menemukan MRT Tamsui-Xindian Line. Saya beli tiket sebesar 20 TWD meuju ke Taipower Building Station.

Tak lama kemudian, saya sampai stasiun tujuan (Taipower Building Station). Dari stasiun saya jalan kaki selama kurang lebih 30 menit menelusuri jalan (Xinhai Road) mencari tempat conference dan hotel dengan membawa peta yang sudah saya siapkan (print out). Kurang lebih 1 jam saya muter-muter akhirnya sampai di Howard Civil Service International House (lokasi conference). Hari pertama acaranya msh bisa dikatakan free, hanya sebatas registration dan welcome reception, acara inti baru akan dimulai tgl 22-25 september.

Setelah mengetahui lokasi conference, saya lanjutkan petualangan menelusuri Xinyi road, Taipe. Sekitar 20 menit kemudian akhirnya sampai di hotel, segera saya check-in dan sholat. Usai sholat saya keluar untuk melihat lingkungan sekitar hotel dan mencari makanan halal. Selama di Taiwan saya tinggal di Rido Hotel di Hsin-Yi Road, Da’an district, Taipe.

RPGR2014Di depan tempat conference

okSaat poster session

Senin (22/9/2014), hari pertama conference diawali dengan opening ceremony dan dilanjutkan dengan plenary talk. Plenary talk oleh Prof. Andre Geim dengan judul “The rise of van der waals heterostructures”. Beliau adalah professor dari Univesity of Manchester, Inggris yang dinobatkan sebagai pemenang Nobel Bidang Fisika. Saat itu Prof Geim dan muridnya (Konstantin Novoselov) menemukan teknik selotip “Scotch” untuk menghasilkan Grafena. Kebetulan, saya juga pernah bertemu dengan Konstatin Novoselov di International conference di Tokyo tahun lalu (2013). Lengkap sudah… ketemu dengan dua orang hebat peraih Nobel Prize in Physics tahun 2010 tersebut.

geimPlenary talk oleh Prof. Andre Geim (Nobel Prize in Physics 2010)

Selain peraih Nobel Prize 2010, conference ini juga dihadiri oleh profesor ternama seperti Prof. Antonio H. Castro Netro (National University of Singapore) dan Prof. Michael Fuhrer (Monas University, Australia) dan masih banyak lagi profesor ternama dan terkenal yang hadir di conference ini.

Selasa (23/9/2014) usai seminar hari kedua. Saya keliling sekitar Taipe. Mencari makanan halal. Di perjalanan, betapa bahagianya ternyata di dekat tempat conference saya menemukan masjid. Bersyukur sekali karena saat coffee break, saya bisa sholat dzuhur di Masjid. Masjid tersebut dikenal dengan nama “Taipe Grand Mosque”. Kabarnya masjid ini merupakan masjid terbesar dari enam masjid yang berada di Taiwan.

photo4 (1)

masjidTaipe Grand Mosque

Rabu (24/9/2014) usai presentasi. Saya pergi ke Taipe 101 yang terletak di Xinyi district, Taipe. Bangunan ini merupakan gedung pencakar langit (beringkat 101) tertinggi kedua di dunia setelah burj khalifa di Dubai. Tersedia lift tercepat di dunia yang mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai 89 dalam waktu 39 detik.

photo3 (2)

photo2 (3)

102Taipe 101

Kamis (25/9/2014) usai conference. Saya mengikuti “Conferences Excursion” ke National Palace Museum (NPM). Museum yang terletak di hihshan Rd., Shihlin District, Taipei City ini konon memiliki koleksi artifak China yang jumlahnya sebagai salah satu terbesar di dunia. Museum ini merupakan museum nomor satu di Taiwan dan merupakan 10 besar museum terbaik di dunia bersaing dengan museum Louvre (Paris) dan Metropolitan Museum of Art (New York).

Jumat (26/9), pagi hari saya meluncur ke Taipe Main Station (TMS) membeli tiket bus menuju Taiwan Taoyuan International Airport untuk balik ke Jepang. TMS ini luas sekali dengan jaringan underground yang banyak sekali bisa membuat orang bingung dan kesasar. Bagi yang pertama kali berkunjung ke TMS, pasti sangat bingung sekali. Ada beberapa jalan untuk menemukan Taipe West Bus Station (tempat membeli tiket bus). Bisa lewat K12 exit dari K-Underground Mall, bisa juga via MRT exit (M5) dan underground Mall Z3. Saya kemarin muter-muter dan akhirnya lewat K12 exit dari K-Underground Mall. Beli tiket Airport Express Bus (125 TWD) tujuan Taiwan Taoyuan International Airport.

Alhamdulillah perjalanan balik ke Jepang lancar, bersyukur…dari hasil belajar bisa berpergian ke negara lain secara gratis. Semoga perjalanan ini bisa memberikan dampak positif dan semakin menambah rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Taipe, 21-26 September 2014